OSPEK..Sistem yang perlu dirubah

Bulan ini mulai memasuki tahun ajaran baru bagi dunia perkampusan. Dan mungkin mulai bulan bulan kemaren sudah ada yang masuk kuliah seperti biasa. Tapi yang menjadi agenda tahunan dari kampus yang akan menjadi sasaran coret coretan saya. Kita ( mahasiswa ) pasti tidak asing lagi dengan apa yang namanya OSPEK. Atau mungkin dengan nama nama yang lain.

Seperti yang kita ketahui OSPEK atau apapun namanya kini, telah menjadi suatu tradisi yang melembaga sejak dahulu pada institusi pendidikan di Indonesia seperti SMA ( MOS ) dan Perguruan Tinggi terutama pada masa penerimaan pelajar/ mahasiswa baru.

Pada dasarnya kegiatan OSPEK memiliki tujuan mulia untuk mempersiapkan pelajar/ mahasiswa baru untuk memasuki lingkungan pendidikan yang baru dengan serangkaian acara ceramah, tugas-tugas aneh, tetek bengek atribut-atribut, segudang sanksi hukuman yang dipadatkan dalam beberapa hari.

Dan OSPEK biasanya juga sebagai ajang perekrutan / kaderisasi suatau badan kemahsiswaan yang ada di kampus itu sendiri. Yang mana menurut hemat saya biasaya orang ( peserta ospek ) yang berani unjuk gigi ( bicara, dll ) maka dia yang kemungkinan besar akan ditarik didalam sebuah badan Mahasiswa. Tetapi kegiatan ospek juga semakin mendapat banyak kecaman dari berbagai pihak ( termasuk saya juga ). Pengalaman aku dulu Cuma ikut ospek 1 hari aja gak genap. Dihukum apa saja aku ndak mau akhirnya disuruh pulang ya pulanggg..he2…

Penerimaan mahasiswa baru atau lebih dikenal dengan orientasi studi pengenalan kampus (ospek), disadari atau tidak merupakan sebuah interaksi awal seorang siswa baru terhadap dunia kampus. Kesan pertama didapat dari acara yang dilangsungkan oleh para senior akan mewarnai dunia kemahasiswaan yang bakal dijalani oleh para mahasiswa.

Beberapa insinden di masa lalu yang berkaitan dengan ospek melahirkan preseden negatif terhadap kegiatan yang berbau ospek. Berbagai predikat diberikan kepada kegiatan ospek, dari perpeloncoan, ajang balas dendam, pembantaian, acara non-HAM,dll.

Dibawah ini adalah contoh contoh dari pembodohan yang ada di OSPEK :

Tugas/prakarya/kegiatan yang tidak sesuai dengan program studi, jurusan, minat, serta tidak memunculkan kreativitas. Khususnya tugas atribut ‘prakarya’, cocard, topi, tas, dsb. Tugas-tugas berlebihan juga tidak baik. Alhasil, biasanya malah akan mendzalimi fisik, diri, bahkan saudara, orangtua, bisa ikut terdzalimi secara tidak langsung. Kecelakaan, jatuh sakit, ternyata masih sering terjadi hingga ospek sekarang. Kalau sudah sakit, apakah bisa melanjutkan ospek?

Pemborosan uang
Biaya masuk kuliah saja mahal, ditambah dengan biaya untuk ospek ini. Bahan-bahan atribut, dsb, bila dihitung-hitung, nominalnya bisa sampai puluhan juta rupiah. Dan itu semua akhirnya cuma menjadi sampah!

Adanya tekanan, ancaman, baik secara mental maupun fisik (kontak fisik, kekerasan, feodal, militer, tidak manusiawi) serta cemohan jikalau tidak ikut ospek. Pernyataan-pernyataan seperti: bila tidak ikut ospek, tidak bisa lulus kuliah, tidak bisa ikut organisasi/kepanitiaan tertentu, tidak bisa mendapat beasiswa, dsb sungguh menyesatkan dan merupakan unsur pembodohan juga. Saya masih ingat jargon sebuah BEM: “tidak pernah ada kasus tidak bisa kuliah gara-gara biaya”, lalu, apakah gara-gara tidak ikut ospek saja, kita tidak bisa lulus kuliah? Kalau ospek wajib, kenapa harus ada pendaftaran? Toh data-data bisa diambil dari data fakultas/universitas.

Adanya unsur skenario. Skenario, alur, dsb memang bisa memacu orang (peserta) agar lebih mudah paham materi, dipengaruhi, dsb. Tapi skenario juga tidak bagus, karena kemudian yang ada adalah sikap dan tindakan yang dibuat-buat oleh panitia sendiri. Kepalsuan. Parahnya, misalnya terkait tugas, tugas yang sudah baik (perfect, bahkan panitia sendiri tidak bisa membuat sebaik itu), disuruh mengulang terus-menerus, tidak ada reward maupun punishment. Jadi jangan salahkan kalau ternyata peserta ospek misalnya juga hanya berpura-pura, bohong, melakukan skenario sendiri, dsb.

Tidak ada keterlibatan langsung pihak fakultas/universitas dalam hal pengawasan. Selama ini nampaknya banyak terjadi ospek pembodohan karena tidak ada peran aktif pihak dekanat, fakultas, universitas dalam hal pengawasan ospek. Mereka hanya diminta mengisi sesi materi saja. Tapi di luar itu, mereka tidak tahu apa-apa yang dirasakan peserta ospek.

Ini lagi alasan pembodohan dalam OSPEK .

OSPEK hanya melestarikan budaya feodal dengan mewajibkan para peserta untuk menghormati paksa senior dan menuruti segala kehendak senior. Hanya terkesan memuaskan para senior yang ’sok gila kuasa’ dan menganggap rendah status mahasiswa baru tak lebih sebagai budaknya.

Pelaksanaan OSPEK selama ini yang bermaksud menanamkan kedisiplinan dengan hukuman dan bentakan hanyalah sebuah bentuk militerisasi dalam kampus. Ini adalah bentuk KEMUNAFIKAN mahasiswa yang katanya anti militerisme dalam kampus tetapi malah melestarikan militerisme dari waktu ke waktu.

Penanaman nilai-nilai baru dalam waktu yang singkat dan dalam tekanan adalah sangat TIDAK EFEKTIF ditinjau dari faktor psikologi. Mahasiswa yang tidak tidur ataupun kelelahan karena mengerjakan setumpuk tugas tidak memiliki kesiapan maksimal untuk menerima informasi baru.

JELAS PEMBODOHAN YA….

Akhirnya kita kan berpikiran buat apa ada OSPEK kalo yang ada hanya sebuah pembodohan buat mahsiswa dan mungkin ini adalah sebuah pembunuhan karakter semata.

Sampai pada akhirnya dirasa perlu oleh Dirjen Dikti untuk mengeluarkan surat keputusan (SK) yang melarang keberadaan ospek di kampus dalam bentuk apa pun. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pengamanan terhadap kejadian di masa lampau.

TRUS????? APAKAH OSPEK HARUS TETAP ADA ???

Kalo menurut saya OSPEK nggak harus ditiadakan dengan banyaknya alasan diatas. Tak pikir apa apa yang saya sebutkan diatas adalah sebuah system. Jadi yang perlu dirubah adalah sistemnya. Bukannya OSPEK dihapuskan. Tidak dipungkiri juga lewat ospek kita bias lebih kenal dengan teman banyak, adaptasi dengan kampus,,dll.

Oleh karena itu, ospek harus dikembalikan pada konsep dan tujuan awal. Ospek yang selama ini sering memperlihatkan kekerasan fisik dan psikis harus diganti dengan ospek yang bervisi humanis dan mencerahkan jiwa dan pikiran mahasiswa baru. Ospek yang selama ini hanya mempertontonkan hegemoni dan arogansi kekuasaan harus diganti dengan ospek yang lebih memperlihatkan kearifan, kesantunan, dan keramahan yang mendidik. Ospek yang selama ini sering menyuguhkan kejahatan akademik harus diganti dengan ospek berbasis pada tradisi dan prinsip kebebasan akademik.

About these ads

25 Tanggapan

  1. Emm.. Salut buat maz nursam dg opininya yg klasik tp sngat berbobot dan sngat real dg keadaan sekarang. Mang kebnyakan OSPEK skrang udah tdk sperti tujuan OSPEK yg sbnrnya.hnya sbg ajang bls dendam smta.bnr,mnrut saya mang bnr OSPEK g’perlu dihps,tp systemnya.system penindasan,pencemo’ohan,pelecehan,pemaksaan,penyibukan,pemborosan.tetap semangat maz nursam.yup :lol:

    sip..makasih ya..emang bener ospek gak perlu dihapus tapi sistemnya yang perlu dihapus..

  2. ospek itu perlu bagi mahasiswa baru untuk lebih mengenal kampus yang akan mereka gali ilmu,

  3. Ospek tidak harus ditiadakan melainkan kembali membentuk garis tegas tujuan yang sesungguhnya dan harus dipahami dan benar2 dimengert oleh semua pihak agar tidak salah mengimplementasikannya.

  4. ospek -> salah satu moment buat cari gebetan daun muda! hahaha…

    halah om det…kebiasaan

  5. penyimpangan visi misi ospek tersebut datang dari kondisi dan keterbatasan si pelakunya…
    anggap saja si pelaku ospek dibekali dan dikaderisasi terlebih dulu, maka turunannya juga akan lebih baik…

    jadi masalahnya sekarang adalah pembenahan subjek dan pengkondisian yang sesuai…

    yahhh… kalo aku seh ospek buat tepe-tepe aja… hahaha ke adek angkatan…. :)

  6. opspek idealnya paparan idealisme sebuah akademisi beserta seluruh perangkat penunjangnya. dalam proses perjalanannya itulah kadang terjadi salah persepsi -kalau tidak ingin disebut manipulasi kegiatan- oleh beberapa oknum panitia penyelenggara. keinginan balas dendam senior ke junior masih terasa lebih besar dibandingkan muatan sosialisasi positif materi utamanya. manipulasi finansialpun cukup rawan disini. kita juga engga bisa menutup mata proses tersebut menguntungkan secara finansial bagi beberapa pihak tertentu (pedagang) dg me-markup beberapa harga pernak pernik opspek tertentu yg kadang engga realistis. menguntungkan pula bagi beberapa pemulung tentu saja. saya setuju dg mas Nur, opspek sebagai media sosialisasi idealisme kampus itu perlu ada, hanya sistemnya yg perlu dibenahi dan diperbaiki. engga susah mentransisi sistem ini saya rasa.
    *wadooww.. kepanjangan, maaf ya*

    wedew…panjang banget….yup berarti setuju ma saya ya..sistemnya yang perlu dirubah..

  7. Ospek ya? aku gak pernah tuh… :D

    masa ndak pernah tho om???

  8. iya paling asyik ajang ospek buat cari gebetan, kaya kata om det :lol:

  9. artikel yang sangat berbobot
    menurutku OSPEK yang dilakukansangat ini tuh sangat tidak manusiawi
    emang bener sistemnya yang harus dirubah

  10. OSPEK? Prasaan aq jg g pernh d suruh pulang, huahahaha.. Malah ono senior ngajak gelut, ospek kok pamer bolo akeh.. Hahaha..

  11. OSPEK???

    Ya tergantung senior, klo seniornya “bodho n sok tau” ngapai diadain ospek..

  12. setuju thu,kayake dah gak jaman lagi dweh ospek ithu isinya kayak begitu,,,,
    dan bener juga ospek jangan di hapus tapi systemnya aja yang poerlu di benahi
    oke mas noersam….sukses for u yah

  13. Kadang lucu di Indonesia tuh, Pengenalan sekolah koq bentuknya begono ya…? Aturan memperkenalkan dunia sekolah tuh bo ya di buat lebih intelek. bukan malah di jadikan ajang berlatih pembimbingnya untuk NAIK DARAH. Marah2 nggak karuan.

    Masih banyak jalan untuk melatih menjadi pribadi yang bagus tanpa ospek koq. Tanpa ikut di cemooh dan dimaki. Emang gitu cara menguji mental tuh? Mahasiswa biasanya banyak ide, gimana kalau di balik idenya menjadi ospek yang lebih positif.

    Dulu saya nggak ikut ospek. Tetep aja bisa lulus dan menghabiskan masa kuliah sesuai waktunya.

    sip pokoknya..ospek tetep tapi sistmnya yang perlu diperbaiki

  14. ospek perlu, utk pengenalan, tapi bukan ladang pembantaian….

    iya..ospek itu perlu,,tapi bukan ajang perploncoan

  15. luas dan panjang pemaparannya.
    ada buruk dan positifnya juga.
    heheh contohnya
    bisa bisnis jualan pelatan sopek.
    untuk bayar uang kuliah juga
    hehehehhehee

  16. kenapa sisi lainnya ndak dibahas?

    saya kira ospek itu sebuah pengalaman berharga yang sangat sayang sekali kalau saya lewatkan…
    :)

    iya..sebenarnya ospek adalah pengalaman yang sangat berharga,,dimana lewat ospek kita bisa mengenal kampus lebih dekat n juga yang pastinya banyak temen…tapi ya hal2 yang berbau pemploncoanyang harus dihapuskan..rak ngoten???

  17. salam perkenalan mas
    saya IMM Sidoarjo tapi asli OGORONOP
    salam perjuangan …
    kalo OSPEK d Kampus dah sangat jauh dari yagn gitu-gituan .. ospek d kampus ku d konsep menjadi sebuah training dan trainer-trainernya dari tmn2 mahasiswa dan dosen .. jadi memang materinya motivasi, terus perkenalan kampus tentunya dan juga tentang materi Speed reading, Memory test dll dalam bentuk game dan macem2 poko e banyak .. dan no Anarki …Hapus saja OSPEK yng penting adalah konsepnya yang di hapus .. di tempat ku bukan OSPEK tapi MATAPEKA Masa Ta’aruf dan Perkenalan Kampus
    wallahu ‘alam bi shawab
    wassalam

    wah panjang amat..yang pastinya sip banget..oiya mungkin nanti bisa diterapkan di ponorogo..yang ospeknya masih berbau pemploncoan…kapan pulang mas??salam buat anak IMM dan IRM sidoarjo

  18. hemm..mungkin karena proses dari ospek itu sendiri yang menyebalkan ya..padahal niatnya si bagus untuk orientasi terhadap kampus dan teman teman serta senior.

    Cuma mas..percaya deh..ikutan ospek itu..seru kok :P

    yang pasti serulah ikut ospek….banyak temen n pengalaman yang pastinya…

  19. wee..jD in9et waktu 0spek dulu..hikss.dikerjain abizz..
    sebenernya ospek tuch masa orientasi/pengenalan antar mahasiswa d seniornya cuma yg keterlaluan tuch senior yg ngerjain,dendam kesumat kalee yaa..ajang balas dendam

    he2..lucu ya ospeknya….makanya yang keterlaluan itu perlu dihapus

  20. paling anti yang namanya ospek walau dulu ikut sih ospek tapi itu gara2 terpaksa kalo enggak bakal berurusan ma komdis(itu loh, yang kumpulan galak2. hehe).. asal tau aja, dulu tiap mereka dateng kekelas sehabis kuliah selesai, q psti langsung kacir, kabur. males bgt dgr omongan mereka. dan yg paling sadisnya ni, taun ini, ada anak maru yg kakinya habis di operasi tetep aja disuruh lari ma senior. mereka(senior yg nyuruh lari) ga mau tau. eh pas tuh anak ngeluh kesakitan, malah akhirnya di pindah tangani ke P3k. jadi P3K d yg kena sasaranny. ampyuuun….

    jadi pengalaman yang menarik yaww

  21. hehe waktu ospek ijin sih, sakit, jadi ya,,tidur-tiduran aja di ruang kesehatan :mrgreen:
    gara2 ospek jadi kenal “kakak” :D

    he2,,,jadi sakit beneran lho????he2

  22. cuma ikutan sehari aja….hehehehe

  23. peserta ospek adalah miniatur masyarakat indonesia umumnya. peserta ospek berada dalam keadaan tidak mampu secara struktural dan mental. ospek tetap dengan tujuan membangkitkan kritisisme mahasiswa baru. dan panitia tentu memposisikan diri sebagai rezim penguasa yang sewenang-wenang.
    jadi, menurutku perploncoan (apel pagi dan sore) itu MASIH PERLU. hanya saja, tidak diperkenankan adanya kekerasan dan pelanggaran HAM.
    *sori ya mas noersam….. :D

  24. Hahaha, gimana Indonesiamau merdeka kalo jiwa2 mahasiswa yang REVOLUSIONER aja masih mental terjajah (yang mahasiswa baru) dan FEODAL (yang ngospek)

    Mana??? katanya mewakili masyarakat? katanya mengontrol pemerintah. kalo di dalamnya aja bobrok gini mau jadi apa kalian?

  25. @Denologis
    ITU PEMBENARAN MAS, masih ada cara lain yang lebih efektif dan tidak feodal. kita lihat dulu manfaatnya, dan itu dilakukan dengan cara apa, BUKAN SEBALIKNYA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: